Setiap kali melihat sisa makanan, sedih. Bukan karena tidak bisa dihabiskan, tetapi membayangkan bagaimana orang-orang yang kelaparan mencari sesuap nasi. Apalagi di berbagai hotel, warung makan, dan beberapa tempat lainnya, dengan mudahnya mengambil makanan, tetapi tidak dihabiskan, kemudian dibuang.
Di banyak meja makan, nasi sering diperlakukan sekadar sebagai pelengkap. Jika tak habis, ia ditinggalkan begitu saja, dianggap remeh, bahkan nyaris tak disesali. Padahal, dalam pandangan iman, setiap butir nasi bukan sekadar makanan, melainkan amanah.
Islam mengajarkan bahwa rezeki tidak hadir secara instan. Ia melewati rantai panjang ikhtiar. Dari tanah yang diolah, benih yang disemai, petani yang bersujud dalam letih, hujan yang dinanti dengan doa, lalu tangan-tangan lain yang mengantarkannya hingga ke piring kita. Ketika satu butir nasi disisakan tanpa rasa bersalah, sejatinya yang kita abaikan bukan hanya makanan, tetapi jejak panjang jerih payah dan kasih sayang Allah.
Rasulullah SAW memberi teladan yang sangat sederhana namun sangat luar biasa. Beliau tidak menyukai menyisakan makanan. Dalam riwayat disebutkan, beliau bahkan memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, lalu memakannya. Bukan karena beliau kekurangan, tetapi karena beliau memuliakan nikmat. Sebab, nikmat yang diremehkan hari ini bisa menjadi penyesalan di hari esok.
“Sesungguhnya orang-orang yang berlebih-lebihan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)
Menyisakan nasi bukan sekadar persoalan etika makan, tetapi cermin cara kita memandang rezeki. Apakah ia kita terima dengan syukur, atau kita perlakukan dengan lalai?
Lebih dari itu, di saat sebagian orang membuang makanan dengan mudah, ada saudara-saudara kita yang menakar nasi dengan harapan. Ada yang belajar menahan lapar, bukan karena ingin, tetapi karena tak punya pilihan. Maka, setiap butir nasi yang terbuang sesungguhnya berhadapan dengan doa-doa yang belum terkabul di tempat lain.
Mungkin kita tak bisa mengubah dunia hanya dengan menghabiskan sepiring nasi. Namun, dari situlah kesadaran dimulai. Dari meja makan, iman diuji: apakah kita benar-benar menghormati pemberian Allah, atau hanya menikmatinya tanpa rasa tanggung jawab?
Menghabiskan makanan bukan soal piring bersih. Ia soal hati yang bersyukur. Dan penyesalan atas sebutir nasi yang tersisa bisa menjadi awal dari iman yang lebih dewasa.
Yuk, jangan buang makanan walaupun hanya sebutir nasi. Siapa tahu barakah Allah terletak di sana. Jangan disisakan!
Alhamdulillah, kita sehat di hari Ahad ini berkat rahmat Allah SWT. Selamat berlibur bersama keluarga dan/atau sendiri, di rumah saja dan/atau ke luar kota. Tetaplah bersyukur dan tersenyum agar bisa berbahagia.
Tetaplah berpikir positif dengan qada dan qadar Allah SWT. Tugas kita hanya berusaha, berzikir, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Moga-moga rida-Nya tetap menyertai kita semua. Amin.