Kisah Singkat Kumbokarno
Dalam pewayangan Ramayana, terdapat sebuah plot cerita tentang Kumbokarno. Disebutkan bahwa Kumbokarno adalah adik dari Raja Rahwana. Berbeda dengan sang kakak, Kumbokarno dikenal sebagai ksatria yang berhati luhur. Ia terkenal sangat jujur, mencintai rakyat dan anti kesewenang-wenangan.
Kumbokarno bahkan menegur keras Rahwana saat menculik Sinta. Ia berniat mengembalikan Sinta kepada Rama namun apa daya, pasukan Rama telah mengepung Alengka dan menyatakan perang.
Jika Kumbokarno adalah pribadi yang baik mengapa ia tetap gugur di pihak yang salah?
Jawabannya bukan sederhana dan justru di sanalah pelajarannya. Kumbokarno tidak membela keburukan, tapi membela tanggung jawabnya sebagai salah satu pemimpin di Alengka.
Kumbokarno tidak pernah membenarkan kesalahan Rahwana. Ia tahu Rahwana berbuat zalim. Namun ketika Alengka diserang, ia melihat satu hal yang lebih besar yaitu Negara dan rakyatnya akan hancur bila ia tidak turun ke medan perang.
Ia berperang bukan karena setuju dengan kejahatan, tetapi karena merasa bertanggung jawab sebagai ksatria Alengka.
Singkat cerita dalam peperangan itu Kumbokarno berhadapan dengan Prabu Rama, dan harus menelan kekalahan telak dan gugur di tangan Prabu Rama. Kumbokarno benar secara niat, tapi salah dalam keberpihakan.
Bagaimana Perspektif Islam Tentang Kisah Kumbokarno?
Dalam Islam, perbuatan Kumbokarno tidak dinilai baik, meskipun niat pribadinya bisa jadi mulia. Niat baik tidak menghalalkan pembelaan terhadap kezaliman.
1️⃣ Prinsip dasar Islam: Tidak boleh menolong kebatilan
Islam sangat jelas dalam prinsip ini:
“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Māidah: 2)
Kumbokarno tahu Rahwana zalim, tahu penculikan Sinta salah. Namun ia tetap mengangkat senjata membela Alengka. Dalam hukum Islam, ia tetap membantu kebatilan, meskipun niatnya melindungi rakyat.
2️⃣ Niat baik belum tentu perbuatannya benar
Islam membedakan niat dan amal, tapi keduanya harus lurus. Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Artinya: Niat baik saja tidak cukup. Cara dan objek perbuatan juga harus benar.
3️⃣ Dalam Islam: yang benar adalah sikap menolak mengikuti kezaliman
Islam memuliakan sikap tidak ikut-ikutan, walaupun konsekuensinya sangat berat.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hūd: 113)
Jadi dalam kacamata Islam terhadap kasus di atas:
✅ Menolak ikut perang = lebih mulia
✅ Menasehati lalu menarik diri = jalan selamat
✅ Gugur membela kebatilan tidak mati syahid
4️⃣ Islam tetap adil dalam menilai Kumbokarno
Kumbokarno tidak dikatakan sebagai seorang munafik, bukan pencari keuntungan, tidak mencintai kezaliman; tetapi tetap berada di barisan yang salah.
Maka dalam Islam: Ia tidak dipuji, tapi juga tidak dicaci secara personal.
Ia adalah contoh kesalahan karena salah posisi, bukan karena hati jahat.
5️⃣ Rumus penting dalam Islam
Sikap Penilaian dalam Islam:
◾Niat baik + tindakan benar -> Pahala
◾Niat baik + membela kebatilan -> Dosa
◾Menolak kezaliman meski sendirian -> Kemuliaan
◾Diam atau ikut demi stabilitas -> Diperingatkan
6️⃣ Pelajaran Islam untuk pemimpin
Islam mengajarkan: Kesetiaan tertinggi bukan pada institusi atau perorangan tetapi pada kebenaran.
Loyalitas dibatasi oleh syariat dan etika
📌 Bertahan boleh, asal tidak membenarkan dan mengikuti kebatilan.
📌 Jika harus memilih: keselamatan moral lebih diutamakan daripada kenyamanan struktural.
Reflektif
“Kumbokarno baik sebagai manusia,
tapi keliru sebagai pelaku sejarah.”
Dan Islam ingin umatnya:
◾baik hatinya
◾benar jalannya
◾tepat keberpihakannya
Khatimah
Kisah Kumbokarno mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan hati tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran sikap.
Dalam hidup, seseorang bisa tulus niatnya, mulia akhlaknya, dan besar pengorbanannya, namun tetap keliru ketika ia salah menentukan keberpihakan.
Di titik inilah Islam hadir bukan untuk menilai watak semata, tetapi menimbang amal berdasarkan kebenaran dan keadilan.
Islam mendidik umatnya agar berani jujur pada nurani, tegas pada prinsip, dan tidak larut dalam loyalitas yang membutakan. Kesetiaan yang melampaui batas kebenaran hanya akan menyeret seseorang pada dosa yang tidak ia kehendaki.
Karena itu, diam, bertahan, atau melawan—semuanya harus ditimbang dengan cahaya iman dan tuntunan syariat.
Semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua, terutama para pemimpin dan pemegang amanah, agar tidak sekadar bertanya “apa niat saya baik?” tetapi juga “apakah jalan yang saya tempuh diridhai Allah?”
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah besarnya pengorbanan, melainkan lurusnya keberpihakan pada kebenaran.
____________
رَبَّنَا انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا
"Ya Allah berilah kami manfaat apa yang telah kami pelajari."
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS Al Baqarah 147).
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
*) Ditulis di Gombong, 25 Desember 2025